Sulit Dikonfirmasi,Djusman AR Minta Penyidik Kasus Pembobol Kartu Kredit Dievaluasi
    Dibaca 2631 kali

Djusman AR

 

SOPPENG,MEDIATANEWS.COM--Informasi terkait perkembangan kasus pembobolan kartu kredit yang melibatkan 19 orang dengan omzet miliaran yang ditangani Poles Soppeng sulit diakses untuk publik.

 IMG-20200828-WA0097

Sejumlah wartawan saat menunggu konfirmasi di depan ruang Kasat Reskrim Polres Soppeng,Jumat 28/8/2020

 

Pasalnya, Kasat Reskrim Polres Soppeng AKP Amri yang hendak dikonfirmasi terkait perkembangan kasus ini terkesan menghindar  dan membiarkan sejumlah wartawan menunggu di depan ruang kerjanya sekira satu jam tanpa berhasil ditemui dengan alasan yang tidak jelas.

 

"Maaf bapak lagi makan"ujar salah seorang stafnya

 

Setengah jam kemudian, saat ditanyakan apa sudah bisa ditemui untuk konfirmasi, lagi lagi jawaban dari salah seorang stafnya mengutarakan jawaban yang agak janggal.

 

" belum ada kode untuk masuk, gagang pintu dari ruang kerjanya belum bergerak " ujarnya

 

Sementara itu, terkait transparansi informasi publik dalam penanganan  kasus ini, Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKal) NGO Sulawesi  Djusman AR mengharapkan agar perkembangan dan informasi kasus ini melalui media agar dibuka  secara transparan. 

 

"Kalau ada penyidik yang menangani suatu perkara apalagi perkara itu sudah dinaikkan ke tingkat penyidikan maka penyidik wajib menyampaikan informasi ini ke publik. Berbeda bila kasus ini masih dalam tahap penyelidikan ada kerahasiaan kerahasiaan yang harus dijaga untuk mengantisipasi penghilangan barang bukti atau pihak pihak yang kemungkinan terlibat berusaha melarikan diri"

 

"harusnya penyidik memahami, bahwa animo masyarakat melalui media sangat besar untuk mengakses informasi ini,media adalah perwakilan atau delegasi dari masyarakat,kalau mereka tidak terbuka ke media itu artinya sama saja menutup akses informasi kepada publik ujarnya

 

Lebih jauh, Djusman mengharapkan Penyidik jangan hanya merespon media dan masyarakat pada moment tertentu yang kemudian pada penanganan perkara   membatasi diri untuk terbuka. 

 

"Penyidik harus menyadari bahwa apa yg dilakukan media terkait konfirmasi adalah sikap profesionalisme Journalistik untuk menyajikan informasi kepada publik tentu penyidik tak menghendaki terjadinya kekeliruan dalam informarsi. Oleh karenanya responsivlah dan ingat penegakan hukum mustahil akan teraih dengan baik tanpa adanya peran serta masyarakat"ujarnya 

 

"Kalau informasinya tertutup,mau tidak mau  ini akan melahirkan sikap pesimistis atau apriori bagi masyarakat terhadap penanganan kasus ini. Penyidik tentu tidak mau ada ekspektasi yang terbangun seperti itu,oleh karena itu harus dibuka,apalagi perkara ini sudah berskala nasional. Kalau ini tertutup,saya khawatir kasus ini seperti kasus Djoko Candra " ujarnya 

 

 Ditegaskan oleh Djusman,"Bila hal tersebut masih diabaikan maka sebaiknya Kapolres atau Kapolda mengavaluasi Kasat/penyidiknya itu"tegasnya

 

 

Bagikan Berita Ini: