Golkar SulSel, Dalam Kendali Nurdin Halid
    Dibaca 1582 kali

Oleh : Nurmal Idrus

Rentetan kegiatan massif yang dilakukan Partai Golkar Sulsel dalam beberapa hari di akhir Oktober ini, jelas ingin memperlihatkan keberadaan Partai Golongan Karya (Golkar) Sulsel. Langkah itu adalah bagian dari sinyal sang ketua baru, Nurdin Halid, tentang dominasi Golkar di Sulsel.


Dalam konteks Sulsel, berbicara mengenai Golkar memang selalu menarik. Ini karena provinsi ini selalu saja menjadi salah satu lumbung suara beringin secara nasional. Ketika provinsi lain satu per satu tumbang tak kuasa melawan serangan partai lain, Golkar Sulsel tetap kokoh sebagai dominator.

 

Meski demikian Golkar Sulsel kini tengah bekerja keras dalam mengatasi situasi tersulitnya sejak era reformasi. Partai penguasa sepanjang era orde baru itu kini bersiap menyingkap keterpurukannya. Meski tetap menjadi pemenang, harus diakui Partai Golkar memang mengalami kemunduran terutama jika ukurannya adalah jumlah persentase perolehan suara.

 

Pada Pemilu 2004 Golkar masih sanggup meraup 43%. Di Pemilu 2009 suara mereka berkurang 7% menjadi 36%. Jumlah itu kemudian tergerus dalam di Pemilu 2014 menjadi hanya 20%.


Jelas sekali bahwa keputusan DPP Partai Golkar mengirimkan Nurdin Halid sebagai plt Ketua Golkar Sulsel menunjukkan betapa krusialnya posisi Sulsel bagi Golkar di Indonesia. Kehadiran Nurdin Halid juga menjadi pertanda bahwa ada masalah serius dalam tubuh Golkar Sulsel. 


Di sisi lain Nurdin Halid ingin menunjukkan bahwa kehadirannya tak akan banyak mengubah pengendalian Golkar di Sulsel. Ini terlihat dari gaya kepemimpinannya yang sangat transformatif dimana beban kerja tersalurkan dengan merata kepada kader tidak seperti pada pengurus sebelumnya yang lebih banyak bertumpu pada segelintir orang.

 

Beban kerja yang tersalurkan merata itu kemudian dibebani target terukur sehingga semua penanggungjawab kegiatan berusaha keras menunjukkan hasil kerjanya.


Jika Nurdin Halid mampu menjaga ritme gerakan Golkar maka sebenarnya partai ini punya masa depan yang bagus di Sulsel. Kemampuannya untuk terus melakukan penetrasi terhadap pemilih di sulsel akan menjadi kunci masa depan ini ke depan. Penetrasi itu berupa tak pernah berhenti hadir di tengah masyarakat dalam berbagai karya dan dharma. Ini memang tak mudah karena memerlukan energi dan finansial yang besar.

 

Pilgub 2018 yang diiringi dengan Pilkada di 12 Kabupaten/kota akan menjadi pertaruhannya. 2018 akan menjadi landasan menuju 2019 dan sangat menentukan apakah pengendalian Golkar di Sulsel akan tetap berlanjut atau malah akan terkudeta.(*)

 

Bagikan Berita Ini: